oleh

Hudaidah Sebut Temuan 16 Ilir Nisan Keluarga Ulama

Analisa Sederhana Terhadap Temuan Nisan Kuno di Palembang

PALPRES.COM – Berdasarkan hasil survei dan kajian literatur, penggiat sejarah Dr Hudaidah MPd memiliki keyakinan bahwa 6 buah nisan batu. Hasil temuan di galian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kawasan Pasar 16 Ilir, tepatnya Komplek Pertokoan Tengkuruk Permai, BlokC, 17Ilir. Merupakan Nisan Keluarga Ulama atau Ungkonan Ulama.

“Pendapat ini tentu berdasarkan analisa dan diskusi yang telah kami lakukan,” terang Hudaidah dalam tulisan laporan analisis atas tugas survei lapangan penemuan nisan kuno Pasar 16 Ilir Palembang. Adapun pejabat pemberi tugas yakni Kepala Di nas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan Aufa Syahrizal SP Msc.

Dalam penugasan tersebut, Hudaidah bergabung dalam tim yang di pimpin Kepala UPTD Museum Negeri Sumsel dan Taman Budaya Sriwijaya. H Chandra Amprayadi SH. Selain Hudaidah, tim beranggotakan budayawan Beni Mulyadi, Bethanica Susmanda dan Alhadi dari Palembang Ekspres/Palpres.com.

Lebih lanjut Hudaidah menyimpulkan, temuan nisan Pasar 16 Ilir merupakan makam Ulama Bebas yang hidup di abad ke-19 masehi. “Ulama ini hidup setelah Kesultanan Palembang Darussalam di ambil alih Kolonial Belanda. Asumsinya saat itu tidak ada lagi ulama keraton. Ulama yang ada hanya ulama bikrokrat dan ulama bebas,” ulasnya.

Analisis ini berdasarkan kajian perbandingan nama-nama ulama Palembang yang di tulis oleh Andi Syarifuddin. dalam bukunya berjudul “Rekaman Kehidupan & Peranan Ulama Kepenghuluan Masa Kesultanan dan Kolonial”. Merupakan kajian atas naskah-naskah yang memuat tentang ulama penghulu di Palembang. Dari sini Hudaidah tidak menemukan nama Haji Abdurrahman Bin Raja Ismail maupun Abdul Al-Aziz Palembani.

Sehingga dia memastikan keduanya berkemungkinan merupakan Ulama Bebas di Palembang. Walaupun makamnya berada di daerah pekampungan yang tidak jauh dari Keraton dan Masjid pada abad 19 M.

Analisis Motif pada Nisan

Selanjutnya sambung Hudaidah, analisis di arahkan pada motif pada 6 buah nisan temuan kawasan Pasar 16 Ilir. Merujuk pada pendapat Ambary (pakar sejarah Islam), membedakan motif nisan di Indonesia menjadi empat yaitu motif Aceh, Demak, Bugis dan Ternate-Tidore.

Berdasarkan adanya kesamaan motif nisan 16 Ilir dengan nisan di Kawah Tekurep dapat kita pastikan motifnya adalah motif Demak.  Analisa lain berdasarkan motif hias yang terlihat pada nisan. Nisan hanya memiliki motif hias gunungan dan medallion. Jika kita amati mendalam medallion berada dalam gunungan.

Motif ini, sebagian besar kita temukan pada makam-makam kuno Palembang yang merujuk pada nisan ulama. Sebut saja makam ulama seperti Sayid Mustafa al-Idrus sebagai imam Susuhunan Abdurrahman. Sayid Idrus Abdullah al-Idrus sebagai imam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) I. Sayid Abdurrahman Maula Tuga’ah sebagai imam Sultan Ahmad Najamuddin I. Dan Datuk Murni al-Haddad sebagai imam Sultan Bahauddin.

Dalam tulisannya, Hudaidah melampirkan dua foto nisan batu masing-masing foto Makam Imam Sayid Al-Idrus dan foto Nisan batu temuan Pasar 16 Ilir.

Nisan batu temuan Pasar 16 Ilir. (Sumber : Data Pribadi, 2021)
Makam Imam Sayid Al-Idrus. (Sumber : Data Pribadi, 2019)

Ciri-ciri tersebut tentu saja berbeda dengan motif hias para bangsawan yang memiliki motif hias. Seperti sulur-suluran, bunga ceplok, gunungan, bunga padma, medallion. Untuk memvisualkan analisis tersebut, Hudaidah menampikan foto nisan Sultan Ahmad Nadjamudin Adi Kusumo di Kawah Tekurep. Lampiran foto dari tiga sisi, yakni tampak depan, belakang dan samping.

Makam Sultan Ahmad Nadjamudin Adi Kusumo
(Sumber: Data Pribadi, 2019)

Batu Nisan Berada Di Samping Struktur Batu Bata

Selain itu mengapa sebutannya ungkonan pada lokasi temuan. Hudaidah mengemukakan, keempat batu nisan di temukan berada di samping struktur batu bata pada di sisi kanan. Struktur bata tersebut terlihat tingginya berkisar 2 meter, batu yang sempat di ambil tim Kantor Arkeologi Sumsel menunjukkan bentuk yang sezaman dengan batu nisan.

Temuan 2 Makam Muslim Tertua Asia Tenggara

Pada kebiasaan pemakaman di Palembang masa dulu, khususnya pemakaman ulama di buat lebih tinggi dari tanah umumnya. Penggunaan nisan dalam sejarah Islam Nusantara pada dasarnya telah di awali dengan temuan bukti tertua peninggalan arkeologi Islam di AsiaTenggara. Yaitu dua makam Muslim berangka tahun sekitar abad ke-5Hijriyah/11Masehi di dua tempat yang sebenarnya agak berjauhan.  Masing-masing di Pandurangga (sekitar Panrang di Vietnam) dan di Leran (Gresik, Jawa Timur).

Dua makam tersebut selama ini di kenal makam berangka tahun tertua di Asia Tenggara. Di lihat segi bahan yang di buat, tampak makam ini bukan buatan lokal. Bahan dan tulisannya bergaya kufi memberi kesan kuat bahwa kedua batu nisan tersebut di buat di Gujarat, India. Temuan nisan tertua ini merupakan bukti arkeologis yang dapat kita rujuk sebagai ciri Islam di Indonesia.

“Sesuai dengan ajaran Islam bahwa memakamkan jenazah adalah salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya. Apabila seorang muslim meninggal dunia. Untuk menandai makam tersebut biasanya di beri ciri terbuat dari batu, kayu dan lainnya yang di sebut dengan nisan. Nisan sebagai penanda kuburan yang biasanya di buat tulisan dengan nama orang yang di kebumikan, tanggal meninggal (wafat) dan tanggal lahir,” beber Hudaidah.

Pada pemakaman di Sumsel dan Palembang pada khususnya. Temuan makam tertua berkisar abad ke 16 Masehi, polanya sama memiliki ciri yang terbuat dari kayu atau batu yang berjumlah dua di letakkan di kepala dan kaki. Nisan kepala biasanya berisi nama si almarhum/almahumah. Sedangkan di kaki adalah memuat tanggal meninggal.

Merujuk pada temuan pemakaman di kota Palembang, maka dapat ditarik untuk menganalisis “Nisan Viral dari 16 Ilir”.  Total temuan nisan berjumlah 6 buah, 4 buah di penggalian pembuatan drainase kawasan Pasar 16 Ilir. Dan 2 buah di temukan pada tempat pembuangan galian proyek di kawasan Tanjung Barangan Palembang. Keenam buah batu nisan teridentifikasi tulisan pada medallionya. Lima buah menggunakan huruf Pegon Bahasa Arab. Dan satu buah menggunakan huruf Pegon Bahasa Melayu.

Deskripsi Keenam Batu Nisan Kuno

Adapun rinciannya 4 buah batu nisan bertuliskan nama nisan dapat di deskripsikan sebagai berikut :

  1. Nisan pertama tertulis “Faqod Intiqol, Illa Rahmatillahi, Al Malikul Abrar Al-Marhum Haji Abdurrahman Bin Raja Ismail.
  2. Lalu Nisan kedua tertulis “Faqod Intiqolat, Ila Rahmatillahi Abrar Ni Haji Rosyidah Binti Haji Abdurrahman Raja Ismail Palembani.
  3. Kemudian Nisan ketiga tertulis “Faqod Intiqolat, Ila Rahmatillahi Abrar, Ni Haji (Nadibah) Binti Abdul Al-Aziz Palembani”.

Merujuk pada tradisi pemakaman di Palembang maka dapat di asumsikan bahwa 3 buah batu nisan yang di temukan. Baik di kawasan 16 Ilir ataupun di Tanjung Barangan, merupakan nisan Kepala.

Sedangkan 2 nisan berikutnya memuat tanggal meninggal yaitu :

  1. Nisan keempat tertulis “Wakana Wafatuhu, Yaumil Isnain, 8 Rabi’ul Akhir, Sanah 1322”.
  2. Nisan kelima tertulis “Wakana Wafatuhu, Yaumil Isnain, 25 Zulhijah, Sanah 1310”.

Temuan dua nisan ini asumsinya merupakan kaki dari nisan-nisan yang lain. Namun berdasarkan analisis Arkeolog Sumsel, kemungkinan 2batu nisan tersebut bukan pasangan kaki dari 3buah batu nisan yang memiliki nama.

“Sehingga memunculkan pertanyaan baru. Di mana pasangan 3 batu nisan memuat nama pemilik (kepala). Dan di mana pasangan 2 batu nisan yang bertulis tanggal (kaki),”  tanya Hudaidah.

Pertanyaan lebih menarik lagi imbuh Hudaidah, ternyata batu nisan yang ketiga menggunakan gabungan nama dan tanggal namun tidak ada tahun.  Sebuah batu nisan ini juga sangat berbeda dengan 5 buah batu nisan lainnya medallion memuat huruf Pegon Bahasa Melayu.

Batu nisan ke-6 dengan tulisan “Faqod Intiqolat, Ila Rohmatillahi Abrar, Nuraini Binti Haji Abdurrahman, 2 Robial Awal”. Mengutip pendapat Kepala Kantor Arkeologi Sumsel Dr Wahyu Rizky Andhifani, kemungkinan batu nisan ke-6 lebih muda dan terkesan pembuatannya tidaksempurna. Baik di lihat dari ukurannya yang tidak simetris dan lebih kasar dan ornament tidak sama dengan 5 buah batu nisan lainnya.

Pertanyaannya dimana juga pasangan nisan ke 6 ini ?” tanya Hudaidah lagi.

Masih Perlu Pengkajian Mendalam

Menutup tulisan laporannya, Hudaidah mengatakan, untuk mendapatkan jawaban yang akurat atas makam 16 Ilir ini, perlu pengkajian lebih mendalam. Misalnya untuk menemukan siapa keturunan pemilik makam ini, mengapa tidak berada pada tempatnya dan berbagai pertanyaan lain. Perlu di lakukan pengkajian lebih mendalam dan lebih komprehensif.

“Saya yakin berbagai pertanyaan yang muncul akan segera terjawab. Keterlibatan semua pihak menjadi sangat krusial agar misteri ini dapat segera terkuak…aamiiin, terimakasih,” tutupnya. IQB

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya