oleh

Dr M Isa dan Perang Lima Hari Lima Malam 1947 (Bagian Kedelapan)

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

SETELAH TRI dan laskar-laskar perjuangan mundur 20 km ke luar Palembang akibat “Perang Lima Hari Lima Malam”, Mohamad Isa merasa prihatin akan keberadaan mereka. Tanpa diketahui pihak Belanda, diam-diam Ia mengirim uang dan aneka kebutuhan pokok kepada para pejuang. Ia sadar mereka butuh logistik untuk tetap bertahan menghadapi Belanda.

Dalam suatu kesempatan, Mohamad Isa mengutus beberapa kurir membawa uang untuk diserahkan kepada Mayor Dani Effendy. Uang tersebut dibungkus rapi dan disembunyikan dalam tas. Sayang, di tengah perjalanan mereka terpergok patroli Belanda. Uang pun disita dan Belanda protes, menuduh selama ini Mohamad Isa rutin mengirim uang lir tuk para pejuang.

Kolonel Moilinger mendatangi Mohamad Isa di Gedung Water Leideng, minta penjelasan mengenai uang itu. Kolonel KNIL itu mendapat penjelasan dari Mohamad Isa bahwa baru pertama kali itu ia mengirim uang untuk para pejuang.

Langkah itu diambil karena merasa prihatin selama di kantong-kantong gerilya, para pejuang tidak memiliki apa-apa. Ditegaskan juga, apa yang ia lakukan tidak melanggar aturan yang telah disepakati bersama. Pemerintah Pusat pun telah menginstruksikan Mohamad Isa untuk membantu para pejuang bila mereka dalam keadaan terdesak.

Baca Juga  Lantik Kwarda Gerakan Pramuka Sumsel, Ini Pesan Herman Deru

Kolonel Mollinger semula tidak mau menerima penjelasan itu. Ia tetap berkeyakinan Mohamad Isa sudah sering mengirim uang pada para pejuang. Mohamad Isa minta bukti-bukti kalau memang benar ia sering mengirim uang sebagaimana yang dituduhkan. Karena memang tidak ada bukti, akhirnya Kolonel Mollinger dapat menerima penjelasan Mohamad isa,

Penangkapan kurir pembawa uang tidak menyurutkan langkah Mohamad Isa untuk tetap membantu pejuang di kantong-kantong gerilya. Dengan berbagai cara dan sembunyi-sembunyi ia tetap mengirim berbagai keperluan untuk para pejuang yang sedang dalam keadaan prihatin.

Posisi Mohamad Isa ketika itu bak tahanan kota yang tak leluasa bergerak, ke mana-mana gerak-geriknya selalu diawasi Belanda.

Banyak kaki tangan Belanda yang mengawasi tindak-tanduknya, mereka juga mengawasi staf pemerintahan. Namun, sebagai mantan aktivis yang matang dalam alam pergerakan, tindakan Belanda dapat ia siasati. Dengan memanfaatkan orang-orang yang setia, Mohamad Isa selalu mendapatkan berita terbaru mengenai perkembangan perjuangan di kantong-kantong gerilya. Ja tahu apa yang mereka butuhkan, Mohamad Isa juga tahu apa kendala di lapangan.

Baca Juga  SMB IV Apresiasi Pembangunan Perumahan MBR dan ASN di Keramasan

Pimpinan militer seperti Kolonel Maludin Simbolon dan Kolonel Bambang Utoyo juga sering mengirim kurir untuk menemui Mohamad Isa. Kontak antara para pimpinan sipil dan militer ini tanpa diketahui Belanda. Segala macam informasi mengenai kekuatan Belanda di Palembang dengan Cepat diketahui para pimpinan militer di kantong-kantong gerilya.

Mohamad Isa juga mengabarkan bahwa Belanda tampaknya tengah bersiap untuk menyerang kantong-kantong gerilya. Informasi itu dengan cepat diterima di segenap basis pertahanan TRI. Tanggal 21 Juli 1947 Belanda melakukan serangan terhadap kedudukan Republik. ***

Sumber :

1. Mohammad Isa – Pejuang Kemerdekaan Yang Visioner, PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2016
2. https://beritapagi.co.id/2018/07/07/pembunuhan-yang-dibungkam-di-palembang.
3. https://javapost.nl/2017/09/01/de-verzwegen-moordpartij-van-palembang/
4. https://tirto.id/batalyon-gadjah-merah-musuh-kaum-republik-di-bali-palembang-gjKz
5. Sumber: https://www.vn.nl/bloedbaden-op-bali-2/

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya