oleh

Dr M Isa dan Perang Lima Hari Lima Malam 1947 (Bagian Ketujuh)

Dudy Oskandar

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

BAHKAN, ada salah seorang anggota pasukan yang sempat emosi dan menembakkan pistolnya ke arah mobil Kolonel Bambang Utoyo. Beruntung peluru hanya mengenai sisi mobil, tidak mengenai anggota badan (Makmoen Abdullah, 1986: 353).

Hari-hari selanjutnya, Mohamad Isa tetap bertahan di Palembang bersama satuan Kepolisian, Angkatan Laut, Jawatan dan Badan Pekerja.

Sebagian unsur sipil ikut mengungsi dan berkedudukan di Lahat. Pemerintahan sipil bekerja kembali. Langkah pertama Mohamad Isa adalah meminta semua pegawai untuk segera berkantor dan membantu kelancaran proses evakuasi TRI, laskar dan badan-badan perjuangan untuk mengungsi ke luar Kota Palembang.

Mohamad Isa sebenarnya sangat berat melepas kepergian mereka karena tanpa adanya TRI dan kekuatan-kekuatan bersenjata lainnya di dalam kota, kedudukan pemerintahan Republik dapat terancam jika sewaktu-waktu Belanda melanggar perundingan. Tetapi, Mohamad Isa yakin pemerintahan sipil akan tetap berjalan walau tidak ada kekuatan militer di dekatnya.

Tugas berat memang telah menanti. Upaya memulihkan kembali keadaan gara-gara “Perang Lima Hari Lima Malam” membuat jam kerjanya bertambah. Ia bekerja tanpa mengenal lelah: bersama para staf, segala macam pekerjaan kantor yang sempat terbengkalai segera diselesaikan. Mohamad Isa juga menginventarisasi segala kerusakan dan kerugian akibat perang.

Baca Juga  Gubernur Beri Bantuan Personel Pos Pam

Kendati demikian usai “Perang Lima Hari Lima Malam”, aktivitas warga Palembang berangsur pulih, roda kehidupan normal kembali. Warga dapat bekerja dan mencari nafkah, pedagang kembali berdagang, para pegawai kembali bekerja di tempat tugas masing-masing.

Belanda sesungguhnya punya skenario tersendiri dengan mengizinkan pemerintahan sipil berada dalam kota. Belanda ingin Gubernur Muda Mohamad Isa bersedia bekerja sama.

Pengalaman Belanda di masa lalu mehunjukkan orang Indonesia mau bekerja sama asal diiming-imingi imbalan jabatan. Tapi ternyata perhitungan itu meleset. Mohamad Isa nasionalis tulen yang setia pada Tanah Air. Belanda juga berupaya mengambil hati warga dengan aneka makanan kaleng seperti kornet, sarden, susu, mentega, dan keju serta biskuit.

Mereka ingin menciptakan anggapan hidup di bawah payung Belanda lebih menyenangkan, segala macam makanan mudah didapat. Namun mereka tak sadar rakyat Indonesia sudah bosan hidup di bawah kaki penjajah. Kendati hidup di wilayah yang dikuasai Belanda, cinta rakyat Palembang pada Tanah Air dan pada pemimpin jauh lebih besar.

Baca Juga  Dr M Isa dan Perang Lima Hari Lima Malam 1947 (Bagian Kedua)

Ini terbukti saat Agresi Militer 1 dan Agresi Militer Il, rakyat umumnya memilih masuk hutan dan bergerilya daripada bekerja sama dengan Belanda.

Mohamad Isa, pemimpin tertinggi Republik yang bertahan di dalam kota tidak dapat bergerak leluasa, kekuatan Belanda mengungkungnya. Mereka menguasai perairan Sungai Musi dan mengontrol jalur perdagangan Palembang dengan dunia luar. Tetapi Belanda tidak sadar, mereka hanya menguasai kota, sementara daerah pedalaman sepenuhnya dikuasai TRI. ***

Sumber :

1. Mohammad Isa – Pejuang Kemerdekaan Yang Visioner, PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2016
2. https://beritapagi.co.id/2018/07/07/pembunuhan-yang-dibungkam-di-palembang.
3. https://javapost.nl/2017/09/01/de-verzwegen-moordpartij-van-palembang/
4. https://tirto.id/batalyon-gadjah-merah-musuh-kaum-republik-di-bali-palembang-gjKz
5. Sumber: https://www.vn.nl/bloedbaden-op-bali-2/

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya