oleh

Palembang di 12 Oktober 1945 (Bagian Terakhir)

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

Usai pertempuran, harian komunis De Waarheid melaporkan pada tanggal 11 Januari 1947 bahwa ladang minyak American Standard Oil Company dan Royal Shell di Palembang telah menjadi tujuan strategis dari Belanda. Konsul China pun berbicara tentang 250 kematian warga sipilnya, sedangkan sejarawan Zed justru menyebutkan 2050 orang China terbunuh.

Dari laporan militer tampak bahwa antara 1 Januari dan 5 Januari skuadron 16 dan 17, 52 melakukan serangan membabi buta, terutama target mereka adalah terutama instalasi militer seperti markas besar Angkatan Laut Indonesia, posisi militer dan berbagai pelayaran dan kendaraan.

Tetapi menurut relawan perang (tentara) Belanda, Destree, mengutip tulisan Anne-Lot Hoek di Javapost. nl, target serangan juga dilakukan pasukan Belanda tersebut terhadap fasilitas umum milik warga sipil seperti pasar dan berbagai bangunan juga dibakar, yang menyebabkan api besar dan menimbukan asap yang tebal dan pekat.

Dan dari Sungai Musi, angkatan laut milik Belanda terus menembak dari kapal perusak Piet Hein ‘pada semua hal yang mencurigakan’, menurut Destree.

Hari-hari itu benar-benar kacau. Penduduk sipil meninggalkan rumah mereka.Banyak yang mencari perlindungan di benteng, tetapi segera dideportasi oleh Belanda.

Baca Juga  Berebut Kuasa di Pulau Bangka (Bagian Ketujuh)

Pasukan Belanda menolak warga sipil masuk dalam benteng, malahan sebuah truk dengan pengungsi terpaksa diusir keluar dari benteng, orang putus asa itu terpaksa melompat keluar dari truk tersebut.

“Apa yang Anda inginkan, Merdeka (kemerdekaan) atau Orang Belanda (orang Belanda)?” serdadu belanda memanggil orang-orang yang ketakutan tersebut, Destree menulis dalam sebuah surat. Orang Belanda tetap pada pendirian. Tapi itu tidak banyak membantu pengungsi tersebut.

Di media Belanda, pada awal 1947, berita penyerangan di Palembang yang dilaporkan hanya kadang-kadang dan, malah dianggap bias.

“De Leeuwarder Courant” berbicara tentang ‘beberapa bangunan’ yang rata dengan tanah’ dan Het Nieuwsblad van het Zuiden memiliki artikel dengan judul ‘Pembebasan Palembang’. Hanya harian komunis De Waarheid yang melaporkan pada tanggal 11 Januari ladang minyak American Standard Oil Company dan Royal Shell di Palembang telah menjadi tujuan strategis dari Belanda.
Dan pada tanggal 7 Januari 1947, perwakilan politik tertinggi di Hindia Belanda, gubernur jenderal Huib van Mook, menulis kepada Menteri Wilayah Luar Negeri bahwa peristiwa-peristiwa perang di Palembang tersebut’memiliki jalan yang baik dan hasil yang menguntungkan’.

Baca Juga  Kapolri Minta Produsen Percepat Pendistribusian Migor

Tetapi laporan tersebut dikeluhkan perwakilan dari komunitas Cina, yang sangat terpengaruh kepada pihak berwenang.

Pada 19 Januari, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan siaran pers yang mengatakan bahwa “warga sipil yang tidak bersalah adalah korban operasi tempur” yang “sangat disesali”.

Belanda menuding penderitaan orang-orang Cina terutama disebabkan oleh Republik, mereka siap untuk memberikan ‘bantuan sebanyak mungkin’ kepada para korban.

Beberapa hari kemudian, penyerangan Belanda berdampak secara internasional muncul, tentang peristiwa itu. Surat kabar berbahasa Mandarin Sin Po di Singapura melaporkan pada 23 Januari sebuah “pemboman tidak manusiawi” terhadap sasaran sipil di Palembang, yang menewaskan “lebih dari seribu orang China”.

Surat kabar itu juga melaporkan bahwa penduduk Tionghoa telah menderita dari kedua belah pihak: dari serangan Belanda, tetapi juga dari oknum kaum nasionalis Indonesia ada melakukan pembunuhan dan penjarahan. Pada masa itu, warga Tionghoa sering dituduh mendukung penjajah kolonial Belanda.

Dr. Isa sendiri mengutuk pembunuhan kompatriot Cina yang datanya tersedia di Arsip Nasional. ***

Sumber :

1. https://beritapagi.co.id/2019/03/17/sekitar-pertempuran-lima-hari-lima-malam-di-palembang
2. https://tirto.id/sejarah-pertempuran-5-hari-palembang-awal-kronologi-akhir-perang-giLm
3. https://beritapagi.co.id/2018/07/07/pembunuhan-yang-dibungkam-di-palembang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya