oleh

Palembang di Masa Transisi di Tahun 1946-1947 (Bagian Ketiga)

Oleh Dudy Oskandar
(Jurnalis dan Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

MEREKA kehilangan seorang pemimpin paling terkemuka ketika harus berhadapan langsung dengan Belanda.

Adinegoro, Kepala Bagian Penerangan Sumatera di Bukittinggi, menilai kepindahan AK Gani ke Jawa sebagai “suatu kerugian yang berakibat akan memperlemah kepemimpinan Sumatera.”

Palembang memang yang paling merasakan dampaknya. Siapa lagi tokoh senior yang tersisa di Karesidenan Palembang setelah mutasi besar-besaran pertengahan 1946? Jika yang dimaksud tokoh senior di sini adalah “elite revolusi”, aktivis pergerakan politik sebelum perang yang memegang posisi kunci dalam kepemimpinan resmi Republik di Karesidenan Palembang sejak awal Revolusi, jumlah mereka sudah sangat jauh berkurang.

Jumlah mereka sekarang dapat dihitung dengan jari sebelah tangan. Semua tokoh senior yang tersisa tinggal di Palembang.

Masing-masing saling mengganti posisi atau menempati kedudukan baru dan lama. Dr M, Isa diangkat sebagai Gubernur Muda Sumatera Selatan, jabatan yang ditinggalkan Gani.

Abdul Rozak, bekas Sekretaris Gani pada awal Revolusi, diangkat sebagai Residen Palembang menggantikan Isa. Sementara Baay Salim dan Noengtjik A.R. tetap menduduki jabatan masing-masing. Yang pertama memegang Urusan Pekerjaan Umum, sedangkan yang kedua memegang Urusan Penerangan Sumatera Selatan.

Sejumlah tokoh lama masih memiliki pengaruh pada lingkungan tertentu, seperti Wali Kota Palembang Raden Hanan dan dr Slamet Prawironoto.

Dalam alur tersebut hanya tokoh-tokoh pemuda yang berada di luar pemerintahan relatif tidak berubah, meski mereka sudah bergabung ke dalam Tentara Republik Indonesia (TRI).

Tokoh-tokoh senior Palembang sebelum perang yang sekarang berasal dari kelompok Islam yang sejak Desember 1945 berhimpun di dalam Masjoemi.

Mereka tidak duduk dalam pemerintahan Karesidenan Palembang. Di antara mereka terdapat A.S. Matcik, Hamzah Koentjit, K.H. Manshur Azhari, A. Najamuddin Hadi dan M.J. Soe’oed.

Kelompok Islam mampu mengonsolidasikan kekuatan, walaupun relatif minor pada periode awal Revolusi.

Hasil pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang diumumkan di Kota Palembang pada tanggal 14 Agustus 1946, jelas membuktikan kebangkitan kelompok Islam (lihat, Tabel 1).

Hasil Pemilihan DPR Palembang, Agustus 1946
1. Blok Islam sebanyak 13 kursi dengan pimpinan KH Ahmad Azhari
2. Partai Sosialis sebanyak 5 kursi dengan pimpinan Noengtjik AR
3. Pesindo sebanyak 3 kursi dengan pimpinan M Zailani
4. PNI sebanyak 4 kursi dengan pimpinan R Ibnu Sutowo
5. Parnawi (Wanita) sebanyak 1 kursi dengan pimpinan Nyonya M Isa
6. Kelompok minoritas :
Tionghoa sebanyak 2 kursi dengan pimpinan Liem Djie Lan
Arab sebanyak 1 kursi dengan pimpinan Ali Gathmyr
India sebanyak 1 kursi dengan pimpinan C Lilarm

(Sumber: Politiek Overzicht , NEFIS, Afgesloten Medio September 1946, HKGS-NOI, G.G.5/46, Bundel 1615, CA, MvD, Den Haag). ***

Sumber :

1. Kepialangan Politik dan Revolusi; Palembang 1900-1950, Mestika Zed, LP3ES, Jakarta, April
2. https://www.kompas.com/stori/read/2021/08/04/150000179/pertempuran-lima-hari-palembang–latar-belakang-kronologi-dan-akhir
3. https://beritapagi.co.id/2019/04/03/pertempuran-melawan-inggris-di-palembang-29-maret-1946

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Menarik Lainya