oleh

Ahli Temukan Varian R.1, Lebih Cepat Menyebar dari Delta

KENTUCKY.PE – Sejumlah kasus Covid-19 varian baru yang dikenal dengan R.1 ditemukan pada panti jompo di Kentucky, Amerika Serikat pada Maret lalu.

Gubernur Kentucky, Andy Beshear, mengatakan wilayahnya menjadi di antara tiga negara bagian di AS yang tercatat memiliki kasus infeksi Covid-19 varian R.1 tertinggi.

Menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dari total 199 pasien dan perawat di panti jompo itu, ada sekitar 26 pasien dan 20 perawat yang positif terinfeksi Covid-19. Sebanyak 28 spesimen yang diteliti terjangkit Covid-19 varian R.1.

“Risiko penularan varian R.1 terhadap pasien yang tidak divaksin tiga kali lebih tinggi dari mereka yang telah divaksinasi,” bunyi laporan CDC.

Sementara itu, sekitar 90 persen penghuni panti jompo dan 52 persen staf fasilitas itu telah merampungkan dua dosis vaksiN Covid-19. Namun, di antara mereka yang telah divaksin, sebanyak 25,4 persen pasien dan 7,1 persen perawat tetap terinfeksi Covid-19.

Menurut analisis CDC, data tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa antibodi vaksin Covid-19 tidak begitu efektif melawan varian R.1.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah memasukan varian R.1 dalam daftar Variants Under Monitoring sejak 7 April lalu. Mutasi virus corona itu terdeteksi pada Januari lalu di beberapa negara.

Beberapa laporan menuturkan varian R.1 pertama kali terdeteksi di Jepang. Varian ini menginfeksi tiga anggota dari salah satu keluarga di Jepang. Satu di antara mereka berusia 40-an tahun.

Varian ini mengandung mutasi yang memungkinkan menembus perlindungan antibodi bahkan bagi mereka yang sudah divaksin penuh.

Menurut Outbreak.info, per 22 September sudah ada 10.567 kasus R.1 yang dilaporkan terdeteksi di seluruh dunia.

Di AS, kasus R.1 tercatat 2.259, sementara di Jepang sebanyak 7.519 kasus. Sejauh ini dua negara tersebut memimpin sebagai negara dengan kasus varian R.1 terbanyak.

Baca Juga  Bupati Pati Agendakan Sampling Tes Swab di Sekolah

Menurut data GISAID, sebuah inisiatif sains global yang menyediakan akses terbuka ke data genom virus influenza, pada 6 Agustus setidaknya tercatat 0,5 persen varian R.1 dari semua kasus baru Covid-19 di AS.

Di negara bagian Maryland, juga mencatat jumlah kasus tertinggi, dengan 399 terdeteksi sejak varian pertama kali muncul di wilayah itu.

Meskipun jumlah infeksinya rendah, mantan professor Harvard Medical School, William A Haseltine, meyakini mutasi baru R.1 akan lebih mudah menyebar, namun masih belum bisa mengalahkan varian Delta.

“R.1 meskipun menyebar, tak benar-benar menyaingi varial delta secara serius,” katanya seperti dikutip Prevention, Kamis (23/9).

Senada, pakar penyakit menular di Pusat Kesehatan Keamanan Jop Hopkins, Ames A Adalja, mengatakan belum ada kemungkinan varian R.1 menggantikan varian Delta.

“(tapi) penting untuk mempelajari varian ini, respon terhadap vaksin dan antibodi monoklonal dan penyebarannya,” lanjur Adalja.

Lima variasi yang ditemukan di R.1 disebut dapat menyebabkan peningkatan resistensi terhadap antibodi. Jika benar, itu berarti bisa membuat varian ini lebih baik melawan antibodi mereka yang sudah divaksin dan mereka yang sudah pernah terinfeksi.

CDC mengatakan varian R.1 mengandung mutasi W152L yang merupakan target antibodi dan dapat mengurangi efektivitas imun.Mutasi W152L juga hadir dalam varian kecil dari strain Delta yang terdeteksi di India.

“Orang yang divaksinasi secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami gejala atau memerlukan rawat inap,” kata CDC.

Varian Delta saat ini merupakan varian dominan di AS. Saat ini, terhitung lebih dari 98 persen dari kasus yang ada. AFP/FAJAR

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya