oleh

Pedati Pangeran Haji Wancik Asal Kedaton OKU Sudah Siap Sambut Pengunjung Museum Negeri Sumsel

PALEMBANG, PE – Pedati bersejarah milik Depati Pangeran Haji Wancik bin Depati Pangeran Haji Agustjik Kertamenggala bin Pangeran Fekir sudah siap menyambut kedatangan para pengunjung Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel). Koleksi teranyar museum milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel itu  dipamerkan tepat di sisi sebelah kiri pintu masuk utama Museum.

Pedati yang sudah dipercantik usai dikonservasi hingga mendekati bentuk aslinya itu kian anggun dengan spot yang berlatar belakang lukisan mural karya pelukis Muhammad Idris berupa rumah limas yang didiami keluarga Pangeran Haji Wancik, tempat pedati itu berasal di Desa Kedaton, Kecamatan Peninjauan Raya, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

Pedati itu sendiri “dijemput” Tim Konservasi Museum Negeri Sumsel awal Februari 2021 silam. Konservasi salah satu peninggalan bersejarah berupa Pedati Pangeran Haji Wancik ini merupakan bagian dari upaya Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa dalam rangka menyelamatkan aset bersejarah di Sumsel. Pedati ini pertama kali diperoleh dari keturunan kelima Pangeran Fekir yang tinggal di Desa Kedaton, Peninjauan Raya, OKU.

Jika diingat awal penyerahan Pedati ini dari pihak keluarga ke pihak Museum Negeri Sumsel, kondisi Pedati cukup memprihatinkan dan tidak terurus. Beberapa bagian pedati sudah rusak dimakan usia seperti bagian atap yang hanya tersisa kerangka, salah satu roda yang sudah patah hingga lantai pedati yang sudah bolong.

Proses pengangkatan pedati dari bawah rumah peninggalan Pangeran Haji Wancik juga tidak mudah, karena kondisi pedati yang rapuh mengangkatnyapun ekstra hati-hati, sehingga menguras tenaga dan waktu.

“Tapi dengan semangat dan komitmen kami untuk menyelamatkan benda bersejarah di Sumsel, dan berkat dukungan semua pihak terutama dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, akhirnya Pedati milik Pangeran Haji Wancik ini bisa dikonservasi dan kini sudah bisa dipamerkan kepada pengunjung museum,” ungkap Kepala Museum Negeri Sumsel H Chandra Amprayadi SH.

Pasca konservasi, kini Pedati milik Pangeran Haji Wancik tersebut semakin menjadi daya tarik pengunjung salah satunya untuk ajang berswafoto sekaligus juga mempercantik dan memberi kesan segar di pintu masuk Museum dari corak merah, cokelat dan emas pada pedati ini.

“Karena ini sifatnya barang peninggalan budaya kami harus benar-benar mengkonservasi sesuai dengan aslinya, jadi tidak bisa sembarangan, harus teliti, jangan sampai pedati ini lain dari aslinya, termasuk juga warna pedati,” jelas Chandra.

Pihaknya juga melibatkan tim konservasi yang dimiliki Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa agar konservasi pedati ini dapat benar-benar sesuai aslinya. “Alhamdulillah, 100 persen sudah selesai, dan kini Pedati ini menjadi ikonnya Museum kita letakkan di pintu masuk. Jadi semua pengunjung ketika masuk museum akan melihat pedati ini, termasuk mendapatkan informasi sejarahnya,” papar Chandra.

Museum Negeri Sumsel juga tak pernah lelah mencari informasi benda-benda peninggalan sejarah. “Kami selalu berkeliling ke daerah-daerah di Sumsel, untuk mencari informasi benda peninggalan sejarah yang masih perlu dipertahankan maupun dipromosikan, upaya jemput bola ini dilakukan agar aset-aset bersejarah di Sumsel bisa terus lestari dan bisa menambah ilmu pengetahuan bagi generasi penerus kita nanti,” harapnya.

Sementara itu, Kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel Aufa Syahrizal Sp Msc yang ikut membantu dalam penyelamatan aset bersejarah berupa Pedati Pangeran Haji Wancik ini mengaku bersyukur dengan telah dilakukannya konservasi pada pedati Pangeran Haji Wancik.

Aufa sedikit bercerita bagaimana dia akhirnya bisa menghubungi pihak keluarga keturunan Pangeran Haji Wancik untuk meminta izin melakukan konservasi terhadap Pedati Pangeran Haji Wancik oleh pihak Museum Negeri Sumsel.

Alhamdulillah, berkat kerjasama dan kegigihan dari Pak Chandra bersama teman-teman dari Museum Negeri Sumsel, dari hasil peninjauan atapun observasi ke lapangan, dan saat berkunjung ke salah satu desa di Kecamatan Kedaton, mereka menemukan bangkai kereta kencana atau pedati yang dulunya dimiliki oleh keluarga Pangeran Haji Wancik,” terang Aufa.

Menurut Aufa, pedati ini bernilai sejarah, karena biasanya pedati ini hanya digunakan keluarga Pangeran atau acara resmi menyambut tamu maupun acara pernikahan.

“Dan kebetulan juga saya sendiri adalah cucu dari Pangeran Haji Wancik, beliau adalah puyang saya dan memang mungkin sudah jodoh, akhirnya saya menghubungi keturunan langsung dari Pangeran Haji Wancik setelah bernegosiasi dan diizinkan keluarga besar ahli waris, kereta ini kami bawa ke Palembang untuk dikonservasi,” papar Aufa.

Dia mengharapkan agar benda warisan budaya ini tetap disimpan di Museum agar dapat tetap dilestarikan. “Juga akan menjadi cerita bagi anak cucu, bagi keturunan Pangeran Haji Wancik, bagi mereka yang ingin mengenang seperti apa kejayaan pada saat pemerintahan Pangeran Haji Wancik di Kedaton, inilah bukti nyata pedati yang beliau gunakan untuk menemui rakyatnya pada waktu itu,” tutup Aufa. BET/IQB

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed