oleh

Webinar Literasi Digital di Palembang Bahas Identifikasi dan Antisipasi Perundungan Digital

PALEMBANG, PE – Saat ini Indonesia dinyatakan sebagai negara dengan kasus cyber bullying atau perundungan digital terbesar nomor 1 di dunia. Hal tersebut berdasarkan penelitian APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menyatakan bahwa 49% dari 5.900 responden mengalami pem-bully-an di internet. Selebihnya 47,2% belum pernah di-bully dan 3,8% tidak menjawab.

“Semestinya media sosial (medsos) bisa menjadi sarana untuk kita mengembangkan potensi seperti menggali informasi lebih dalam, memiliki relasi yang luas, mencari kelompok/komunitas yang tepat, dan tentunya menjaga kebutuhan eksistensi diri kita. Namun sayangnya, kecanggihan teknologi ini tidak selalu dimanfaatkan dengan baik,” beber Isma Nurillah MH, narasumber ketiga Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) dengan tema ‘Identifikasi dan Antisipasi Perundungan Digital (Cyber bullying)’, Sabtu (18/9).

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri) dalam paparan dengan judul “Perundungan Digital Dalam Perspektif Hukum,” mengimbau semua kawula muda agar dapat menggunakan medsos dengan bijak.

“Salah satu langkah konkritnya dengan pantengin info-info dari Mingrow di medsos Grow To Give Indonesia. Isi masa mudamu untuk mengembangkan potensi diri, dibandingkan dengan menggunakan medsos untuk sesuatu yang tidak bijak seperti bullying,” timpalnya.

Menurut Isma, kasus bullying bisa berawal dari kelalaian dalam menjaga privasi di medsos, terlalu percaya data di media sosial sehingge menimbulkan celah dan potensi terjadinya kejahatan. Jaga privasi dalam penggunaan medsos. Cyber bullying dianggap valid bila pelaku dan korban berusia di bawah 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa.

“Bila salah satu pihak yang terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, maka dikategorikan sebagai cyber crime atau cyber stalking/cyber harassment,” tukasnya.

Lebih lanjut Isma merincikan beberapa regulasi yang berkaitan perundungan digital antara lain Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Pasal 27 ayat 3 yang menyatakan, “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 750 juta”.

Kemudian Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Pasal 108 Ayat 1 dan Ayat 6 berbunyi, “Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tulisan”.

“UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 80 yang berbunyi, setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72 juta. Selanjutnya UU Pornografi dan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) Tentang Perlindungan Data Pribadi Melalui Sistem Elektronik Nomor 20 Tahun 2016,” pungkasnya.

Selain Isma, tiga narasumber berkompeten turut dihadirkan secara bergilir menyampaikan materi secara virtual lewat aplikasi zoom meeting. Ketiga narasumber masing-masing Ardi Widi Yansah S Sos (Praktisi Komunikasi dan Editor Foto Majalah GATRA) dan Ali Mansur MA (Akademisi Politik Hukum dan Filsafat Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Muhammad Edwar MPd (Wakil Kepala SMA Negeri 11 Palembang).

Webinar ini sendiri dimulai pukul 09.00 yang dibuka oleh moderator Mega Nurjayanti. Kemudian menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar dan dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI.

Lantas keynote speech kedua disampaikan Wali Kota Palembang H Harnojoyo yang mengapresiasi penyelenggaraan webinar tersebut. Selain itu, turut hadir menghangatkan suasana dan memotivasi peserta webinar yakni Dini Valdiani (Dosen, Pengusaha @kasihbahhairtonic) sebagai Key Opinion Leader (KOL).

Lebih lanjut dalam sesi tanya jawab, moderator mempersilakan empat penanya terpilih untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber secara berurutan. Karena antusias peserta cukup tinggi untuk bertanya, moderator juga memilih enam penanya lagi untuk berkesempatan mendapat hadiah langsung berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp 100 ribu.

Terpisah, Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti secara daring oleh 479 orang peserta dari mahasiswa dan pelajar.

Untuk webinar selanjutnya imbuh Suryati, diselenggarakan Senin (20/9) dengan tema “Kenali dan Pahami Rekam Jejak di Ruang Digital” yang menghadirkan empat narasumber berkompeten antara lain Masrizal Umar ST (Chief Marketing Officer PT Spirit Inti Abadi), Cecep Nurul Alam ST MT (Bidang Ahli ICT Kopertais II Jawa Barat dan Kepala Divisi e-Learning), Iswan Djati Kusuma SPd MSi (Kepala SMA Negeri Sumatera Selatan), Lusi Desdemona SPd (Wakil Kepala SMA Negeri 12 Palembang). IQB

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed