oleh

Unsri Dorong Kelompok Tani Manajemen Irigasi Partisipatif di Muara Enim

PALEMBANG.PE- Sumatera Selatan (Sumsel) adalah lumbung pangan nasional. Namun sentra produksi beras masih terbatas pada empat kabupaten, yakni OKU Timur, Banyuasin, OKI dan Musi Rawas (Mura).

Keberadaan para petani transmigrasi besar di empat kabupaten tersebut, memudahkan terbentuknya manajemen irigasi berbasis kelompok tani partisipatif.

Selain empat kabupaten tersebut, Muara Enim memiliki potensi besar untuk menyamai produksi beras pada empat kabupaten sentra produksi Sumatera Selatan.

Melalui program IFAD (International Fund for Agricultural Development), Universitas Sriwijaya mengutus Progam Studi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian dibawah pimpinan Dr. Maryadi dan Dr. Yulius mendorong pembentukan kelompok tani manajemen irigasi partisipatif solid di Muara Enim.

Sebanyak 60 peserta petani dan penyuluh dikirim Dinas Tanaman Pangan, Hortikultural dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Muara Enim di BPP Sri Tanjung, untuk mengikuti kegiatan bimbingan teknis dan Fasilitasi IPDMIP tersebut.

“Kami berterima kasih banyak pada Tim Agribisnis Unsri yang telah mendorong para petani dibawah kendali para penyuluh kami, untuk membentuk kelompok tani yang kokoh dan kuat dalam menajemen irigasi partisipatif ini”, kata Yadi Setiadi, S.P. Kabid Prasarana dan Penyuluhan mewakili Kadin TPHP Kabupaten Muara Enim Ulil Amri SP. MM Sabtu, (18/9) .

“Kita melihat potensi besar Muara Enim dalam pertanian padi. Namun kelompok tani (poktan) yang ada kesannya masih belum terintegrasi baik. Sehingga berbagai program pemerintah pusat berbasis poktan yang mestinya mengalir ke mereka, tidak dapat diakses dengan baik. Sebab, jika petani tidak berkelompok, maka mereka akan kehilangan banyak kesempatan berpartisipatif dalam program-program pemerintah tersebut, ” ujar Dr. Nurillah Elsya Putri, pakar pembentukan kelompok tani partisipatif Sumsel dari Unsri yang juga narasumber utama dalam kegiatan ini.

Menurutnya, pembentukan kelompok tani partisipatif ini harus memiliki usaha tani yag dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing anggota poktan. Dengan demikian seluruh usaha tani ini harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dikembangkan, dalam skala ekonomis usaha yang terus mampu menjaga kuantitas, kualitas dan kontinuitas produk taninya.

“Ini yang kami tekankan pada pembentukan poktan partisipatif ini”, tambah Dr. Leli sapaan akrabnya hari ini di Muara Enim. “

Dia melihat Kabupaten Muara Enim telah memiliki berbagai teknis saluran dan jaringan irigasi. Seperti saluran irigasi rawa sungai Endikat Bengkok, Ataran Ulak Limau, Ataran Batu Pipih, Ataran Air Meo, Ataran Sawah Lebar, Lepak Jaya dan Bangkalan Gajah. Saluran irigasi darat di Lesung Batu Tanjung Agung dan Muara Danau Semende Darat.

Serta jaringan irigasi sungai pasang surut Arisan Musi di Muara Belida dan lain sebagainya. Bahkan dengan dana CRS PT Bukit Asam juga dibangun PTLS Irigasi.

“Tentu ini akan menambah produksi beras di Muara Enim. Karena panen bisa 2 tahun/sekali (IP 200). Bahkan IP 300, IP400 dan IP500”, kata Pakar Perberasan Unsri, Dr. Agustina Bidarti sebagai narasumber pendamping.

“Sayangnya,dia melihat pembangunan ini masih pada tataran fisik. Belum banyak yang menyentuh pembangunan manusia, para petaninya. Oleh karena itu, fokus utama kegiatan bimtek sepanjang tiga hari kami coba pada persoalan pembangunan SDM ini. Agar, keberadaan poktan di Muara Enim ini benar-benar dipakai sebagai tempat untuk memperkuat kerjasama, baik di antara sesama petani dalam poktan, maupun antar poktan serta dengan berbagai pihak lainnya”, tungkas Dr. Agustina Bidarti.

Ketua tim Dr. Maryadi sependapat dan menyampaikan bahwa pada bimtek ini juga ada penguatan bekerjasama dalam kelompok dinamis, penguasaan berkomunikasi dengan berbagai stakeholder, dan tentu berkreatifitas dalam rantai pasok.

“Jadi Bimtek ini mendorong pembentukkan peningkatan interaksi, produktivitas dan pengembangan poktan tani ke arah lebih baik. Dimana pada akhirnya, akan muncul kesejahteraan hidup para anggotanya”, tambah Dr. Yulius. Dan goal dari kegiatan ini munculnya peran petani dalam kelompok.

Mereka tidak saja mampu bertindak sebagai produsen padi. Namun juga mampu menjaga kekompakan poktan, mampu berkoordinasi dengan para stakeholder pelaku pasar, serta memiliki pengetahuan pasar dalam meningkatkan harga tinggi hasil pertanian.

“Sekaligus mereka adalah penjaga warisan irigasi serta penerima program pemerintah pusat yang baik. Sehingga akan terbentuk manajemen irigasi partisipatif poktan yang berdinamik,” pungkas Dr. Nurillah Elsya Putri. DUD

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed