oleh

Kemenkominfo Gandeng 4 Narasumber Webinar Beber Kiat Melindungi Diri dari Bahaya Pornografi di Ruang Digital

PALEMBANG, PE – Bahaya pornografi dan pelecehan seksual pada anak belakangan kian menjadi momok yang sangat menyeramkan. Di era digital yang serba mudah ini, anak-anak dapat dengan mudah mengakses pornografi melalui gawainya.

Untuk mengulas lebih dalam bagaimana melindungi diri dari bahaya pornografi di ruang digital, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) menggelar Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kota Palembang dengan tema “Lindungi Diri dari Bahaya Pornografi”, Selasa (14/9).

Empat narasumber berkompeten dihadirkan secara bergilir menyampaikan materi secara virtual lewat aplikasi zoom meeting. Keempat narasumber masing-masing Muhamad Arif Rahmat SHI (Certified Life Coach), Dr (C) Roro Vemmi Kesuma Dewi Mpd (Akademisi Bidang Pendididikan dan Praktisi Pendidikan Ramah Anak), Prof Dr H Jomi Emirzon SH MHum FCBArb (Guru Besar Fakultas Hukum Unsri) dan Dra Hj Darmawati MM (Kepala SMA Negeri 15 Palembang).

Salah seorang narasumber yang juga Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri), Prof Dr H Jomi Emirzon SH MHum FCBArb mengangkat pemaparan berjudul “Peran Hukum dalam Pencegahan Pornografi di Dunia Digital”. Arbiter yang juga Ketua Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Palembang ini menjelaskan, hukum memiliki peran untuk kontrol sosial, dan hukum juga berperan sebagai alat rekayasa sosial.

“Dalam mengatur, hukum hadir untuk mengatur dan memberikan hukuman bagi kejahatan baik bagi perbuatan yang memang dianggap sebagai kejahatan umumnya (mala insemaupun terhadap suatu perbuatan yang tadinya bukan kejahatan menjadi kejahatan karena diatur oleh hukum (mala prohibita),” tuturnya.

Lebih jauh Joni menyinggung seberapa efektivitas hukum dalam melindungi masyarakat dari bahaya pornografi. Lantas dia mengutip teori efektifitas hukum ala Soerjono Soekamto yang menyebutkan bahwa hukum dapat efektif – termasuk hukum dalam aktifitas digital – apabila pengaturan hukumnya baik, pejabat dan aparat penegak hukumnya baik, masyarakatnya taat, budayanya bagus, dan fasilitas pendukungnya memadai.

Baca Juga  Kemenkominfo Berbagi Info Hak Cipta dalam Dunia Digital juga Dilindungi UU

Hanya saja timpal Joni, kenyataan di lapangan didapati fakta-fakta sebaliknya yakni fasilitas deteksi penegak hukum dalam kejahatan pornografi di internet masih minim, UU Pornografi dinilai masih belum optimal, pejabat dan aparat penegak hukum masih belum memiliki kapasitas keilmuan digital (cyber crime), dan masyarakat yang masih gagap dalam penggunaan teknologi (gaptek).

“Hukum hadir sebagai tool/alat deteksi pencegahan dan alat penghukuman guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang religius dan baik budi pekertinya. Dalam segala aspek, pornografi tidak dapat diterima di negara Indonesia sehingga kampanye atas penolakan pornografi perlu digalakkan,” pungkasnya.

Senada narasumber keempat, Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 15 Palembang Dra Hj Darmawati MM menguraikan, upaya yang harus dilakukan untuk melindungi diri dari pornografi adalah membangun pondasi agama yang kuat, memberikan edukasi seks yang tepat atau kurikulum tentang anti pornografi, antisipasi dengan kegiatan positif, dan menjalin sinergi yang harmonis dengan pihak terkait.

Webinar ini sendiri dimulai pukul 09.00 yang dibuka oleh moderator Ayu Amelia. Kemudian menayangkan Lagu Indonesia Raya yang diikuti semua peserta webinar dan dilanjutkan dengan penayangan video keynote speech yaitu Semuel A Pangerapan, Direktur Jenderal (Dirjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kemenkominfo RI.

Lantas keynote speech kedua disampaikan Wali Kota Palembang H Harnojoyo yang mengapresiasi penyelenggaraan webinar tersebut. Selain itu, turut hadir menghangatkan suasana dan memotivasi peserta webinar yakni Erisa Fadhilla (MC, Conten Creator IG dan TikTok) sebagai Key Opinion Leader (KOL).

Lebih lanjut dalam sesi tanya jawab, moderator mempersilakan empat penanya terpilih untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada keempat narasumber secara berurutan. Karena antusias peserta cukup tinggi untuk bertanya, moderator juga memilih enam penanya lagi untuk berkesempatan mendapat hadiah langsung berupa uang elektronik masing-masing senilai Rp 100 ribu.

Baca Juga  Tips Bijak Berkomentar di Ruang Digital Ala Kemenkominfo

Terpisah, Suryati Ali selaku Runner Literasi Digital wilayah Palembang Sumsel membenarkan bahwa webinar yang digelar Kemenkominfo RI bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel diikuti secara daring oleh 793 orang peserta dari mahasiswa dan pelajar.

Untuk webinar selanjutnya imbuh Suryati, diselenggarakan Rabu (15/9) dengan tema “Interaksi Online Nyaman, Kikis Ujaran Kebencian” yang menghadirkan empat narasumber berkompeten antara lain Ardi Widi Yansah SSos (Praktisi Komunikasi dan Editor Foto Majalah GATRA), Muhamad Arif Rahmat SHI (Certified Life Coach), H Achmad Rizwan SSTP MM (Kepala Dinas Kominfo Provinsi Sumatera Selatan) dan Benni Taslim SE MPd (Pimpinan Sekolah Methodist 2 Palembang). IQB

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya