oleh

Lindungi Ekosistem Gambut, DLHP Sumsel Susun Dokumen RPPEG

PALEMBANG.PE- Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) provinsi Sumatera Selatan, memulai proses penyusunan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) dengan menyelenggarakan Lokakarya Penyadartahuan Penyusunan Dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) Provinsi Sumatera Selatan, pada Senin, (2/8) di Hotel Wyndham, Jakabaring, Palembang.

Acara yang dilaksanakan secara luring dan daring ini, merupakan langkah awal dalam meningkatkan dan memperkuat pemahaman para pihak tentang urgensi perencanaan ekosistem gambut dan proses yang harus ditempuh dalam menyusun RPPEG pada tingkat provinsi maupun kabupaten. Melalui lokakarya ini diharapkan akan terhimpun informasi awal mengenai ketersediaan data dan informasi yang relevan dalam penyusunan RPPEG Provinsi Sumatera Selatan.

Sebagai media konsultasi para pihak, lokakarya dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di provinsi Sumatera Selatan, meliputi jajaran UPT Kementerian LHK, OPD Pemprov Sumsel, akademisi, mitra pembangunan, kalangan swasta dan profesional, serta media. Kegiatan ini juga didukung oleh Forum DAS Sumsel, ICRAF Indonesia, dan Balai Penelitian Tanah sebagi bagian upaya #PahlawanGambut di Sumatera Selatan. #PahlawanGambut adalah sebuah gerakan untuk menghimpun pengetahuan, pembelajaran, pemahaman serta berbagai ide terkait pengelolaan gambut berkelanjutan oleh para penggiat, peneliti, pelaku usaha, petani dan generasi muda di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.

Dalam sambutannya mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Provinsi Sumatera Selatan, Kabid Pengendalian Kerusakan dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup, Drs. Wilman SH, MH, menyampaikan, lokakarya ini dilakukan dengan melihat perlunya upaya- upaya pelestarian dan perlindungan ekosistem gambut. Penyusunan upaya pengelolaan ekosistem gambut Sumsel ini disusun untuk 30 tahun kedepan, 2020-2049, dengan mengacu kepada Kepmen LHK, untuk mendukung RPPEG Nasional.

Baca Juga  DLHK-ICRAF Gelar Bimtek Susunan RPPEG Sumsel

“Selain itu upaya lainnya juga dilakukan guna pemanfaatan, perlindungan dan pendayagunaan ekosistem gambut, serta adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim yang terjadi. Sehingga wawasan kita akan terbuka secara jelas betapa pentingnya ekosistem lahan gambut di Sumatra Selatan,”ungkapnya.

Penyusunan dokumen RPPEG merupakan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

PP tersebut memberikan mandat kepada Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota untuk menyusun dan menetapkan RPPEG sesuai kewenangannya. Meliputi RPPEG nasional oleh Menteri, RPPEG provinsi oleh Gubernur, dan RPPEG kabupaten/kota oleh Bupati/Walikota. Dokumen RPPEG memuat rencana jangka panjang pengelolaan dan perlindungan lahan gambut untuk 30 tahun ke depan. Dokumen ini merupakan upaya perlindungan awal bagi lahan gambut dari kerusakan, dan degradasi lahan. Dalam penyusunannya, harus dilakukan
secara komprehensif dan teliti, dengan melibatkan berbagai pihak dari level kabupaten, provinsi hingga level nasional.

Sumatera Selatan merupakan provinsi dengan salah satu ekosistem gambut yang terluas di pulau Sumatera setelah provinsi Riau. Namun saat ini ekosistem gambut tersebut berada dalam kondisi yang membutuhkan upaya pengelolaan dan pemulihan menyeluruh, sehingga Sumatera Selatan masuk sebagai salah satu provinsi prioritas restorasi gambut.

Oleh karenanya, hadirnya RPPEG diharapkan mampu mencegah terjadinya kerusakan dan menjamin kelestarian fungsi ekosistem gambut untuk sekarang dan masa yang akan datang di Sumatera Selatan, dan dapat diikuti oleh beberapa kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan yang memiliki wilayah bergambut.

Baca Juga  DLHK-ICRAF Gelar Bimtek Susunan RPPEG Sumsel

Kasubdit Perencanaan Pengendalian Ekosistem Gambut KLHK RI, Ir Huda Azhani secara virtual menyampaikan apresiasi rencana penyusunan dokumen RPPEG.

“Saya kira kita perlu sampaikan bahwa penting juga selain tindakan yang cepat dan praktis di lapangan, kita perlu menyusun sebuah dokumen sebagai suatu landasan baik itu hukum maupun menyusun laporan secara konperhensif, maupun penganggaran baik APBN, APBD maupun anggaran-anggaran lainnya,”ungkap Huda.

Adapun urgensi penyusunan dokumen RPPEG ini sebagai dokumen yang menjadi pegangan semua pihak, karena banyak pihak yang terkait dalam pengelolaan ekosistem gambut baik pemerintah pusat, pemda, dunia usaha, masyarakat dan mitra perlu ada acuan dalam mengelola gambut secara utuh.

“Ini adalah sebuah upaya secara sistematis dan terpadu untuk menyelamatkan ekosistem gambut. Dalam dokumen itu kata kunci lain adalah sebuah sinergitas karena melibatkan banyak pihak, karena ekosistem gambut merupakan bentang alam, satu ekosistem yang utuh untuk menunjang kehidupan, sehingga semua pihak perlu melakukan secara sitematis terpadu, sinkron, harmonis dengan pengelola ekosisten gambut,”terangnya.

Dokumen ini lanjut Huda adalah sebuah dokumen yang berisi tentang kondisi potensi dan permasalahan ekosistem gambut di Sumsel. “Kita juga menarik isu-isu apa yang relevan di Sumsel, saya kira ini penting setelah kita kumpulkan data-data kita letakkan menjadi isu strategis selanjutnya dirumuskan sebuah strategis dan arah kebijakan, kemudian dirumuskan program dan target-target yang akan kita capai selanjutnya dirumuskan menjadi dokumen,”paparnya. BET

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya